Selasa, 10 Maret 2015

JCI 5th. Edition : PFR / HPK

Perubahan-perubahan yang terjadi pada bab PFR / HPK standar JCI edisi kelima dibandingkan edisi keempat (di Indonesia dikenal dengan nama Standar Akreditasi RS 2012) adalah sebagai berikut :

Standar
Perubahan
Penjelasan
PFR.1.1
Penomoran ulang
Memindahkan persyaratan dari ACC.1.3 (edisi ke-4)
PFR.1.2
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Penomoran ulang dan menggabungkan persyaratan dari PFR.1.1 dan PFR.1.1.1 (edisi ke-4); penyusunan ulang kalimat standar dan elemen penilaian untuk memperjelas persyaratan
Elemen Penilaian PFR.1.2
1.   Nilai-nilai dan keyakinan pasien diidentifikasi.
2.   Staf memberikan perawatan yang menghormati nilai-nilai dan keyakinan pasien.
3.   Rumah sakit merespon permintaan rutin maupun kompleks permintaan yang berhubungan dengan dukungan agama atau spiritual.
PFR.1.3
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Penomoran ulang dan menggabungkan persyaratan PFR.1.2 dan PFR.1.6 (edisi ke-4); menggabungkan PFR.1.6, elemen penilaian 1 dan 3 (edisi ke-4), ke PFR.1.3 elemen penilaian 3 untuk merampingkan dan memperjelas persyaratan.
Elemen Penilaian PFR.1.3
1.   Anggota staf mengidentifikasi harapan pasien dan kebutuhan untuk privasi selama perawatan dan pengobatan.
2.   Kebutuhan yang diutarakan pasien untuk privasi dihormati pada seluruh wawancara klinis, pemeriksaan, prosedur / penatalaksanaan,  dan tranportasi.
3.   Kerahasiaan informasi pasien dijaga sesuai dengan UU dan peraturan. (Lihat juga MOI.2 dan MOI.7)
4.   Pasien diminta untuk memberikan izin untuk melepaskan informasi yang tidak dicakup oleh UU dan peraturan.
PFR.1.4
Penomoran ulang
Memindahkan persyaratan dari PFR.1.3 (edisi ke-4)
PFR.1.5
Perubahan persyaratan
Menggabungkan PFR.1.4 dan PFR.1.5 (edisi ke-4) dan merevisi elemen penilaian untuk mengkonsolidasikan dan memperjelas persyaratan.
Elemen penilaian PFR.1.5
1.   Rumah sakit menyusun dan menerapkan proses untuk melindungi pasien dari semua tindak kekerasan.
2.   Populasi yang rentan yang berada pada risiko lebih tinggi diidentifikasi.
3.   Rumah sakit menyusun dan menerapkan proses untuk melindungi populasi yang rentan dari masalah keselamatan lainnya.
4.   Area rumah sakit terpencil atau terisolir dipantau.
5.   Staf memahami tanggng jawab mereka dalam proses perlindungan.
PFR.2
Tidak ada perubahan penting
Menambahkan revisi kecil pada maksud dan tujuan serta elemen penilaian untuk memperjelas harapan mengenai dukungan rumah sakit terhadap hak pasien untuk mencari pendapat medis kedua.
PFR.2.1
Perubahan persyaratan
Menggabungkan PFR.2.1 dan PFR.2.1.1 (edisi ke-4) dan merevisi elemen penilaian untuk mengkonsolidasikan dan memperjelas persyaratan.
Elemen penilaian PFR.2.1
1.   Pasien diberitahu tentang kondisi medis mereka dan setiap diagnosis yang sudah dikonfirmasi.
2.   Pasien diberitahu tentang perawatan dan penatalaksanaan yang direncanakan.
3.   Pasien diberi tahu ketika informed consent akan diperlukan dan proses yang digunakan untuk memberikan persetujuan.
4.   Pasien diberitahu tentang hasil yang diharapkan dari perawatan dan penatalaksanaan.
5.   Pasien diberitahu mengenai hasil yang tak terduga dari perawatan dan penatalaksanaan.
6.   Pasien dan keluarga diberitahu tentang hak mereka untuk berpartisipasi dalam keputusan perawatan sejauh yang mereka inginkan.
PFR.2.2
Perubahan persyaratan
Menggabungkan PFR.2.2 dan PFR.2.3 (4 edisi) dan merevisi Elemen penilaian untuk mengkonsolidasikan dan memperjelas persyaratan
Elemen penilaian PFR.2.2
1.   Rumah sakit telah mengidentifikasi posisinya pada penundaan layanan resusitasi dan pembatalan atau penolakan penatalaksanaan bantuan hidup berkelanjutan.
2.   Posisi rumah sakit sesuai dengan norma agama dan budaya masyarakat  serta ketentuan hukum dan peraturan.
3.   Rumah sakit menginformasikan kepada pasien dan keluarga tentang hak-hak mereka untuk menolak atau menghentikan penatalaksanaan dan tanggung jawab rumah sakit sehubungan dengan keputusan tersebut.
4.   Rumah sakit menginformasikan pasien tentang konsekuensi dari keputusan mereka.
5.   Rumah sakit menginformasikan kepada pasien tentang alternatif perawatan dan penatalaksanaan yang tersedia.
6.   Rumah sakit memandu profesi kesehatan mengenai pertimbangan etika  dan legal dalam melaksanakan keinginan pasien berkaitan dengan alternatif penatalaksanaan.
PFR.2.3
Perubahan persyaratan
Menggabungkan dan Penomoran ulang PFR.2.4 dan PFR.2.5 (edisi 4) dan merevisi Elemen penilaian untuk mengkonsolidasikan dan memperjelas persyaratan
Elemen penilaian PFR.2.3
1.   Rumah sakit menghormati dan mendukung hak pasien untuk asesmen dan manajemen nyeri.
2.   Rumah sakit menghormati dan mendukung hak pasien untuk asesmen dan manajemen kebutuhan pasien di akhir kehidupan.
3.   Staf rumah sakit memahami pengaruh  personal, budaya, dan sosial pada pasien yang mengalami nyeri.
4.   Staf rumah sakit memahami pengaruh personal, budaya, dan sosial pada pasien yang mengalami kematian dan di akhir kehidupan.
PFR.4
Penomoran ulang
Penomoran ulang PFR.5 (edisi ke-4)
PFR.5
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Penomoran ulang PFR.6.3 (edisi ke-4) dan menambahkan elemen penilaian pada “menginformasikan pasien dan keluarga tentang pemeriksaan dan perawatan yang memerlukan informed consent”.
Elemen penilaian PFR.5
1.   Pasien dan keluarga diberitahu perihal lingkup persetujuan umum, bila digunakan oleh hospitaI.
2.   Rumah sakit telah didefinisikan bagaimana persetujuan umum, bila digunakan, didokumentasikan dalam catatan pasien.
3.   Pasien dan keluarga diberitahu tentang pemeriksaan dan penatalaksanaan yang mana yang memerlukan informed consent. (Juga lihat PFR.5.1)
PFR.5.1
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Penomoran ulang PFR.6 (edisi ke-4) dan menambahkan dua Elemen penilaian mengenai “pasien belajar tentang proses informed consent dalam cara dan bahasa yang mereka pahami dan pencatatan yang seragam dari informed consent”.
Elemen penilaian PFR.5.1
1.   Rumah sakit menyusun dan mengimplementasikan proses informed consent yang didefinisikan secara jelas.
2.   Staf yang ditunjuk dilatih dalam proses.
3.   Pasien belajar tentang proses untuk pemberian informed consent dengan cara dan bahasa yang dimengerti pasien.
4.   Pasien memberikan informed consent konsisten dengan proses tersebut.
5.   Ada pencatatan yang seragam untuk informed consent.
PFR.5.2
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Menggabungkan dan Penomoran ulang PFR.6.4 dan PFR.6.4.1 (edisi 4) dan menghapus dua Elemen penilaian.
Elemen penilaian PFR.5.2
1.   Persetujuan diperoleh sebelum prosedur bedah atau invasif.
2.   Persetujuan diperoleh sebelum anestesi dan prosedur sedasi.
3.   Persetujuan diperoleh sebelum penggunaan darah dan produk darah.
4.   Rumah sakit telah mempunyai daftar prosedur tambahan dan penatalaksanaan yang memerlukan persetujuan terpisah.
5.   Persetujuan diperoleh sebelum prosedur tambahan dan / atau berisiko tinggi dan penatalaksanaan.
6.   Identitas individu yang memberikan informasi kepada pasien dan keluarga dicatat dalam catatan pasien.
PFR.5.3
Penomoran ulang
Memindahkan persyaratan dari dari PFR.6.1 (4 th edition)
PFR.5.4
Penomoran ulang
Memindahkan persyaratan dari PFR.6.2 (edisi ke-4)
PF R.6
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Memindahkan persyaratan dari PFR.10 (edisi ke-4), merevisi maksud dan tujuan untuk kejelasan, dan menambahkan dua Elemen penilaian untuk lebih menekankan perlunya memastikan hak pasien dan keluarga mengenai donor organ dan jaringan.
Elemen penilaian PFR.6
1.   Rumah sakit mendukung pilihan pasien dan keluarga untuk menyumbangkan organ dan jaringan lain.
2.   Rumah sakit memberikan informasi kepada pasien dan keluarga pada proses donasi.
3.   Rumah sakit memberikan informasi kepada pasien dan keluarga pada cara di mana pengadaan organ diatur.
4.   Rumah sakit memastikan bahwa pengendalian yang memadai tersedia untuk mencegah pasien dari perasaan ditekan untuk donasi.
PFR.6.1
Penomoran ulang, perubahan persyaratan
Memindahkan persyaratan dari PFR.11 (edisi ke-4), merevisi maksud dan tujuan untuk kejelasan, dan menghapus serta menambah Elemen penilaian untuk memperjelas persyaratan mengenai pengadaan organ dan jaringan.
Elemen penilaian PFR.6.1
1.   Rumah sakit menetapkan proses donasi organ dan jaringan, dan memastikan bahwa proses tersebut konsisten dengan UU dan peraturan, serta nilai-nilai agama dan budaya. 
2.   Rumah sakit mengidentifikasi persyaratan persetujuan dan menyusun proses persetujuan yang konsisten dengan persyaratan tersebut.
3.   Staf dilatih dalam isu-isu kontemporer dan keprihatinan terkait dengan donasi organ dan ketersediaan transplant.
4.   Rumah sakit bekerja sama dengan rumah sakit dan lembaga yang relevan di masyarakat untuk menghormati dan melaksanakan pilihan untuk donasi.

Sumber :
  • Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals 5th. edition 

Sabtu, 07 Februari 2015

JCI 5th. Edition : ACC / APK

Perubahan-perubahan yang terjadi pada bab ACC / APK standar JCI edisi kelima dibandingkan edisi keempat (di Indonesia dikenal dengan nama standar akreditasi RS 2012) adalah sebagai berikut:

1. Standar ACC.1.1 dan ACC.1.2

Penomoran ulang standar dari edisi ke-4 untuk meningkatkan alur bab secara keseluruhan: ACC.1.1 (sebelumnya ACC.1.1.1) dan ACC.1.2 (sebelumnya ACC.1.1.3)

2. Standar ACC.2
Penomoran ulang standar ACC.1.1 (pada edisi ke-4); menghapus teks dari maksud dan tujuan, menghapus elemen penilaian 5 (pada edisi ke-4) untuk memperjelas persyaratan.
Elemen penilaian 5 yang dihapus itu adalah sebagai berikut:

5
Ada proses penanganan pasien bila tidak tersedia tempat tidur pada unit yang dituju maupun diseluruh rumah sakit.

3. Standar ACC.2.1 dan ACC.2.2
Penomoran ulang standar dari edisi ke-4 untuk meningkatkan alur bab secara keseluruhan: ACC.2.1 (sebelumnya ACC.1.1.2) dan ACC.2.2 (sebelumnya ACC.1.2)

Minggu, 01 Februari 2015

JCI 5th. Edition : IPSG / SKP

Elemen penilaian Bab IPSG / SKP pada standar JCI edisi kelima mengalami beberapa perubahan dibandingkan standar JCI edisi keempat (di Indonesia, dikenal dengan nama standar akreditasi RS 2012). Perubahan-perubahan tersebut dapat anda lihat pada daftar di bawah ini:

SKP.1

Elemen Penilaian SKP.1 JCI Edisi 4

1
Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak termasuk penggunaan nomor kamar atau lokasi pasien.
2
Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
3
Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis (lihat juga AP.5.6, EP 2).
4
Pasien diidentifikasi sebelum pemberian terapi dan prosedur.
5
Kebijakan dan prosedur mendukung praktek yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.

Elemen Penilaian SKP.1 JCI Edisi 5
1
Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak termasuk penggunaan nomor kamar atau lokasi pasien.
2
Pasien diidentifikasi sebelum pemberian terapi dan prosedur.
3
Pasien diidentifikasi sebelum suatu prosedur diagnostik

Sabtu, 31 Januari 2015

JCI 5th. Edition : Accreditation Participation Requirements (APR) / Persyaratan Partisipasi Akreditasi (PPA)

Bab ini merupakan hal yang baru, karena tidak ada pada edisi keempat (di Indonesia lebih dikenal dengan nama Standar Akreditasi RS 2012). Bab ini terdiri dari persyaratan khusus untuk berpartisipasi dalam proses akreditasi Joint Commission International, dan untuk mempertahankan status terakreditasi. Bagi rumah sakit yang mengajukan akreditasi JCI untuk pertama kali, kesesuaian dengan banyak ketentuan APR dinilai selama survei awal. Bagi rumah sakit yang sudah terakreditasi, kesesuaian dengan APR dinilai sepanjang siklus akreditasi, melalui survey di lokasi, Rencana Peningkatan Strategis/Strategic Improvement Plan (RPS/SIP), dan update secara berkala terhadap data dan informasi rumah sakit yang spesifik.

Selasa, 06 Januari 2015

5S Di Ruang Kerja, 15 Menit Setiap Hari

5S adalah aktifitas mendasar yang harus dilakukan sebagai langkah awal menuju penerapan lean management. Tanpa 5S, lean management akan seperti bangunan yang kehilangan pondasinya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap aktifitas 5S ini harus kita kuasai, agar dapat kita laksanakan dengan baik.

Pada tulisan ini saya akan membahas tentang penerapan 5S di ruang kerja, sebagai langkah awal menuju penerapan 5S di seluruh lingkungan kerja.  Cara penerapannya pun mudah, kita hanya perlu mengalokasikan 15 menit setiap hari, sehingga tidak menyita waktu. Diharapkan, dengan diterapkannya 5S di ruang kerja ini, dapat menjadi langkah awal untuk mendorong terlaksananya penerapan 5S di area yang lebih luas di lingkungan kerja kita masing-masing.  Berikut ini adalah video slidenya.

video

Anda pun dapat melihat video slide tersebut disini.

Kamis, 01 Januari 2015

Bagaimana Otak Belajar?

Belajar adalah aktifitas terpenting dalam hidup.  Semua hal di alam semesta ini dalam keadaan belajar, agar dapat melanjutkan kehidupan.  Sistim alam semesta berikut seluruh pendukungnya masih ada karena terus belajar. Dengan belajar, mereka akan terus dapat melakukan perbaikan. Tanpa belajar, kehidupan ini akan hancur dan musnah.

Contoh:
Ketika tubuh seseorang diserang oleh suatu virus patogen, ia akan melakukan respon. Jika virus itu sudah pernah menyerang sebelumnya, maka tubuh akan merespon dalam bentuk pengeluaran antibodi spesifik sebagai hasil belajar dari serangan virus yang sama sebelumnya. Dengan adanya antibodi itu, serangan virus menjadi tidak ada artinya, karena tubuh sudah kebal / imun terhadap virus tersebut. Namun, virus pun belajar dari pengalaman sebelumnya.  Ketika tubuh manusia sudah memiliki antibodi terhadapnya, ia akan melakukan mutasi dan memiliki sifat-sifat baru yang belum dikenal oleh tubuh manusia.  Sehingga, ketika ia menyerang manusia, manusia tidak lagi kebal, dan jatuh sakit.  Tetapi, kemudian tubuh manusia belajar lagi untuk mengenali virus tersebut dan membuat antibodinya.  Begitu seterusnya. 

Rabu, 26 November 2014

Kejadian Sentinel: Seorang Nenek Tewas Setelah Diberi Obat yang Salah

Kasus :

KBR - Seorang nenek di Bristol, Inggris tewas setelah diberi obat yang salah oleh apoteker. Dawn Britton (62 tahun) sebenarnya terbiasa meminum pil untuk penyakit Crohn atau peradangan pada saluran cerna yang ia derita. Namun seorang apoteker keliru memberi tablet yang berbeda, yang seharusnya untuk penderita diabetes.

Karena ukuran dan warna pil yang sama, Britton pun tidak bisa membedakan pil yang biasa ia minium dengan pil yang ia terima dari apoteker. Setelah ia meminum pil itu beberapa minggu, ia koma dan meninggal sebulan kemudian di rumah sakit.

Kini, anak Britton berniat menuntut Farmasi Jhoots yang memberikan resep yang salah pada Agustus tahun lalu.

“Kami diberitahu (mereka) bahwa penuntutan itu tidak berkaitan dengan kepentingan publik. Tapi bagaimana bisa orang dibiarkan saja setelah membunuh ibu kami” ujar Lee (41 tahun) , anak Dawn Britton.

Rabu, 19 November 2014

Clinical Practice Guidelines, Clinical Pathways, Clinical Protocols

Standar akreditasi RS 2012 PMKP 2.1 Elemen penilaian 1/ JCI QPS 2.1 ME.1 mensyaratkan bahwa setiap tahun pimpinan menentukan paling sedikit 5 (lima) area prioritas dengan fokus penggunaan pedoman klinis, clinical pathways dan/atau protokol klinis. Berdasarkan standar itu, maka setiap tahun rumah sakit harus membuat 5 macam dokumen berupa pedoman klinis, clinical pathways, dan atau protokol klinis. 

Untuk menjamin hal itu terlaksana, kita harus melibatkan klinisi. Yang paling baik adalah jika 5 macam dokumen itu dibuat langsung oleh para klinisi melalui komite medik dan masing-masing kelompok staf medis fungsional. Dengan cara itulah maka kita dapat lebih memiliki keyakinan bahwa dokumen itu nantinya akan dilaksanakan oleh masing-masing klinisi. 

Namun, sering terjadi para klinisi tidak dapat membuatnya, dengan berbagai kendala yang ada. Jika hal itu terjadi, kita masih dapat menggunakan cara lain, yaitu membantu mereka (para klinisi) membuatkan 5 macam dokumen itu. Setelah kita buatkan, kita minta komite medik dan masing-masing SMF terkait untuk memeriksa dan memberi persetujuan. Jika cara ini dapat dilakukan, kita pun dapat berharap nantinya 5 macam dokumen itu dapat dilaksanakan, karena sudah disetujui oleh masing-masing SMF. Diluar kedua cara di atas, kemungkinan keberhasilan pelaksanaannya akan jauh lebih kecil.

Agar kita dapat membuat 5 macam dokumen itu dengan baik, harus ada referensi yang dapat dipertanggungjawabkan mutunya. Nah, dibawah ini ada beberapa sumber yang dapat kita jadikan rujukan untuk membuat 5 macam dokumen tersebut:

Minggu, 12 Oktober 2014

PBB: Kesalahan Vaksin Membunuh Anak Suriah

Kasus:

PBB telah mengakui 15 anak Suriah tewas setelah mitra LSM mereka keliru memberi obat yang salah dalam program vaksinasi campak. Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB, mengatakan pada Rabu bahwa relaksan otot diberikan kepada anak-anak dan bayi pertengahan September di bagian yang dikuasai pemberontak di barat laut Suriah. "Apa yang terjadi dengan vaksin adalah tragedi nyata, itu merupakan "human error" yang mendasar, '' kata Dujarric. 

Sebuah laporan oleh Organisasi Kesehatan Dunia bulan lalu mengatakan relaksan otot itu disimpan di lemari yang sama dengan zat yang digunakan untuk mencairkan vaksin campak. Dikatakan orang atau kelompok yang bertanggung jawab untuk hal itu tidak diketahui. 

Minggu, 14 September 2014

Lean Thinking Rekam Medis

Unit medical record mempunyai peran yang luas di rumah sakit. Banyak sekali aktifitas yang terkait dengannya. Karena banyaknya aktifitas itulah pengelolaannya menjadi sangat penting.  Jika tidak dikelola dengan baik, unit medical record dapat menjadi sumber masalah yang makin lama makin besar, dan makin mengganggu kinerja rumah sakit secara keseluruhan.  

Beberapa masalah yang sering terjadi di unit medical record diantaranya adalah: 
  • Waktu tunggu yang lama dari berkas medical record untuk sampai di poliklinik. 
  • Berkas medical record tidak ditemukan. 
  • Berkas medical record tercecer di berbagai tempat.
  • Tempat penyimpanan berkas penuh.
  • Waktu tunggu yang lama untuk penyelesaian dokumen (seperti: surat keterangan lahir, resume medis, administrasi asuransi, dan lain-lain).
  • Kekurangan tenaga kerja.
  • Dan lain-lain.  
Salah satu solusi untuk mengatasi hal itu adalah dengan menerapkan electronic medical record.  Namun, solusi itu di Indonesia belum merupakan solusi yang terpilih, karena masih banyaknya masalah yang terkait dengan penerapannya.  Oleh karena itu, kita memerlukan solusi lain yang efektif.  Salah satu yang dapat kita terapkan adalah menerapkan konsep Lean Thinking di unit medical record.  Contoh penerapan konsep tersebut dapat dilihat pada video slide di bawah ini:
video

Jika tampilan video di atas kurang jelas, anda dapat melihat video yang sama disini.