Minggu, 10 Maret 2013

Alcohol Handrub / Cairan Pembersih Tangan Berbasis Alkohol Buatan Sendiri

Standar SKP.5 Akreditasi RS 2012 / IPSG.5 Joint Commission International mensyaratkan rumah sakit untuk memiliki program kebersihan tangan (hand hygiene).  Dalam pelaksanaannya, cara yang paling banyak dipilih adalah menggunakan cairan pembersih tangan berbasis alcohol. Hal ini karena cairan pembersih tangan berbasis alkohol merupakan satu – satunya sarana yang diketahui secara cepat dan efektif dapat menonaktifkan beragam mikroorganisme yang berpotensi berbahaya pada tangan. Menggunakan air dan sabun tidak menjadi pilihan karena tidak praktis, memakan waktu, dan membutuhkan banyak penambahan sarana. Oleh karena itu, WHO pun telah merekomendasikan cairan pembersih tangan berbasis alcohol sebagai standar emas (gold standard) untuk kebersihan tangan di lingkungan pelayanan kesehatan.

Namun demikian, ketika mengetahui betapa mahalnya harga cairan itu dipasaran, sebagian sarana kesehatan mulai berpikir ulang. Untuk alasan ekonomis, mereka tidak menggunakannya.  Mereka tetap menggunakan air dan sabun yang tidak praktis dan tidak tersedia di seluruh area.  Akhirnya program kebersihan tangan itupun terancam kelangsungannya.

Untuk mengatasi masalah itu, WHO telah memberikan pedoman bagaimana menyediakan cairan pembersih tangan berbasis alcohol yang murah, efektif, dan tetap memenuhi standar, dengan cara memproduksi sendiri.  Ada dua formulasi yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu:

Formulasi 1:

Untuk menghasilkan konsentrasi akhir dari etanol 80%, gliserol 1,45%, hidrogen peroksida (H2O2) 0,125%
Tuang ke dalam botol 1000 ml:
  • etanol 96%, 833,3 ml
  • H2O2 3%, 41,7 ml
  • gliserol 98%, 14,5 ml
Tambahkan sampai tepat 1000 ml dengan air suling atau air yang telah direbus dan didinginkan, kocok lembut agar isinya tercampur.

Formulasi 2:

Untuk menghasilkan konsentrasi akhir isopropil alkohol 75%, gliserol 1,45%, hidrogen peroksida 0,125%
Tuang ke dalam botol 1000 ml:
  • isopropil alkohol (dengan kemurnian 99,8%), 751,5 ml
  • H2O2 3%, 41,7 ml
  • gliserol 98%, 14,5 ml
Tambahkan sampai tepat 1000 ml dengan air suling atau air yang telah direbus dan didinginkan, kocok lembut agar isinya tercampur.

Catatan: Gunakan hanya bahan dengan kualitas farmakope (misalnya The International Pharmacopoeia) dan bukan produk kelas teknis.

Metode Produksi:

Volume produksi, wadah:
  • 10 liter, gunakan botol kaca atau plastic dengan tutup yang diputar.
  • 50 liter, gunakan plastic (lebih disukai yang berbahan polypropylene, cukup transparan untuk melihat tingkat cairan) atau tangki stainless steel dengan kapasitas 80 sampai 100 liter
Tangki – tangki tersebut harus dikalibrasi untuk ketepatan volumenya. Paling baik jika memberi tanda pada bagian luar tangki / botol plastic dan pada bagian dalam tangki stainless steel.

Proses pembuatan:
  • Alcohol dimasukkan ke dalam botol atau tangki sampai pada batas yang telah ditentukan.
  • H2O2 ditambahkan menggunakan gelas ukur
  • Gliserol ditambahkan menggunakan gelas ukur.  Karena gliserol sangat kental dan lengket, gelas ukur dapat dibilas menggunakan air suling atau air yang telah direbus dan didinginkan.  Kemudian air bilasannya dimasukkan ke dalam botol / tangki.
  • Botol / tangki kemudian diisi dengan air suling atau air yang telah direbus dan didinginkan sampai batas yang telah ditentukan (10 atau 50 liter).
  • Setelah itu, botol atau tangki segera ditutup untuk mencegah penguapan.
Larutan kemudian dicampur dengan cara mengocok perlahan jika memungkinkan (jumlah kecil) atau menggunakan pengaduk kayu, plastic, atau metal.

Setelah dicampur, larutan segera dituang ke dalam wadah yang lebih kecil (misal: botol plastik 1000, 500, atau 100 ml).  Botol harus dijaga selama 72 jam. Hal ini untuk memberi kesempatan bagi H2O2 memusnahkan spora yang terdapat pada alcohol atau botol / tangki.

Pengendalian Mutu

Jika alcohol diproduksi secara local, periksa konsentrasi alcohol dan lakukan penyesuaian volume untuk mendapatkan konsentrasi akhir yang disarankan.  Alkohol meter dapat dipakai untuk memeriksa konsentrasi alcohol pada larutan yang sudah jadi; H2O2 dapat diukur dengan cara titrimetri.  Gas kromatografi dapat dipakai sebagai cara pengendalian mutu yang lebih tinggi. Kontaminasi mikroorganisme dan spora dapat diperiksa dengan cara filtrasi.

Pemberian Label

Botol harus diberi label, yang mencantumkan:
  • Nama institusi
  • Tanggal produksi dan nomor batch
  • Komposisi: etanol atau isopropanol, gliserol dan hidrogen peroksida (% v/v dapat juga dicantumkan)
Cantumkan juga pernyataan berikut:
  • Formulasi cairan pembersih tangan yang direkomendasikan WHO
  • Obat luar
  • Jangan terkena mata 
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak
  • Penggunaan: tuangkan ke telapak tangan dan lakukan pembersihan tangan sesuai prosedur.  Gosok hingga kering.
  • Mudah terbakar: jauhkan dari api dan panas.

Catatan: Untuk keselamatan, WHO merekomendasikan untuk tidak memproduksi lebih dari 50 liter larutan sekali produksi.

Distribusi

Untuk menghindari kontaminasi dengan organisme yang dapat membentuk spora, lebih baik gunakan botol sekali pakai, walaupun botol yang disteril ulang dapat menurunkan biaya produksi dan limbah.  Untuk mencegah penguapan, kapasitas maksimal wadah sebaiknya 500 ml di ruangan dan 1 liter di kamar operasi. Botol 100 ml yang dapat dimasukkan ke dalam kantong sebaiknya juga disediakan untuk penggunaan individual.

Pengisian ulang botol harus mengikuti kaidah pembersihan dan disinfeksi yang berlaku (autoklaf, rebus, disinfeksi kimia menggunakan klorin).  Penggunaan autoklaf adalah yang paling baik.  Botol isi ulang tidak boleh diisi hingga benar-benar sudah dikosongkan, kemudian dibersihkan dan di-disinfeksi. 

Penempatan

Tempatkan handrub di sebanyak mungkin lokasi dimana ada aktifitas pelayanan kepada pasien.  Sediakan juga handrub botol kemasan kecil (100 ml) yang dapat dimasukkan ke saku baju, sehingga dapat dibawa oleh setiap petugas.  Dengan makin mudahnya akses, diharapkan tingkat keberhasilan program akan tinggi. Contoh penempatan handrub di ruangan dapat dilihat pada gambar berikut ini:



Pembersihan dan Disinfeksi Botol

Botol kosong bekas pakai harus dibawa ke pusat pembersihan.  Botol harus dicuci seluruhnya dengan detergent dan air kran untuk menghilangkan sisa cairan.  Jika tahan panas, botol direbus. Perebusan sebaiknya dipilih daripada disinfeksi kimia, karena disinfeksi kimia bukan hanya meningkatkan biaya, tapi juga memerlukan langkah ekstra untuk membilas sisa-sisa disinfektan.  Disinfeksi kimia harus meliputi perendaman botol di larutan yang berisi minimal 1000 ppm klorin selama minimum 15 menit dan kemudian dibilas dengan air steril / air yang telah direbus dan didinginkan.  Setelah disinfeksi panas / disinfeksi kimia, botol harus diletakkan secara terbalik di rak sampai kering.  Botol yang sudah kering harus ditutup dan disimpan. Dilindungi dari debu, hingga digunakan.

Sumber: 
WHO Guidelines on Hand Hygiene in Healthcare 2009

13 komentar:

  1. Dear dokter taufik, saya agus dari RSUP KANDOU manado, saya sudah mempraktekkan pembuatan handrub formulari 1, akan tetapi banyak keluhan handrub tersebut berbau kurang enak. Mohon saran dari dokter untuk mengatasi keluhan tersebut, apakah boleh ditambahkan bahan pewangi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Agus, tentu saja anda dapat menambahkan pengharum sesuai selera. terima kasih.

      Hapus
  2. selamat sore dok, saya dari RSUD tanjungbalai sumatera utara, saya mau tanya, apakah membuat handrub utk keperluan RS tidak pakai izin produksi? apakah ada payung hukum nya? terima kasih sebelumnya ( ifrs.tanjungbalai@gmail.com )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk keperluan internal, tidak perlu ijin produksi.

      Hapus
  3. DEAR dr taufik , saya arvy dari RSKB Diponegoro Klaten, mau menanyakan untuk standar penempatan lokasi handrub apakah ada jarak berapa, walaupun setiap ruangan sudah ada?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya di dekat pintu masuk ruangan

      Hapus
  4. dear dokter Taufik, untuk pembersihan dan disinfeksi botol hand hygiene selain menggunakan klorin bisa dengan apa lagi ya dok? dan bagaimana caranya? semogaaa terjawabkan, terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan cantumkan nama RS tempat anda bekerja, terima kasih.

      Hapus
  5. Maaf dok mohon tanya kenapa larutan handrub yang saya buat sesuai formula ini setelah kering mengrluarkan bau tidak sedap? Apakah glisetolnya bisa figanti dengan pelembab yang lain misalnya lotion pelembab berbahan gel/handbody? Diana(RSI Asyifa)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Diana, anda perlu menambahkan pengharum dan pelembab lain. Perlu diketahui, formula itu adalah formula dasar yang disusun oleh WHO dengan pertimbangan ekonomis tapi efektif. Sehingga, jika anda ingin yang lebih bermutu, silahkan tambahkan pengharum dan pelembab lain, terima kasih.

      Hapus
  6. Dear Dokter Taufiq, saya yemima Production Staff pada CV. Cool Clean Malang. Sehubungan dengan keperluan Audit tempat saya bekerja, dibutuhkan solusi untuk Personal Hygine terkait HACCP karena secara tidak langsung perusahaan saya masuk kedalam sektor yang pendamping untuk Industri Food and Beverage. Saat saya melakukan gogle search untuk permasalahan yang kami hadapai saya mampir ke Blog Anda, dan tertarik untuk mengaplikasikannya pada Perusahaan tempat saya bekerja. yang ingin saya tanyakan apakah aplikasi handrub sanitizer berbasis alkohol ini hanya dapat dilakukan di Rumah Sakit saja? dan apakah bisa kami menggunakan alasan yang sama (kebutuhan internal) untuk produksi sanitizer handrub ini? Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Yemima, pada dasarnya hand rub berbasis alkohol terutama digunakan untuk kepentingan pencegahan penyebaran kuman di rumah sakit. Namun, tentu saja hand rub ini dapat saja digunakan untuk kepentingan lain yang lebih luas di industri makanan, pendidikan, dan lain-lain. Karena kuman ada di mana mana, tidak hanya di rumah sakit, terima kasih.

      Hapus
  7. Dear Dokter Taufiq,saya mau menanyakan,apakah ada standarisasi dan uji efektivitas terhadap penurunan koloni setelah menggunakan handrub ?

    BalasHapus